Riwayat Hidup :

My photo
Medan, Sumatera Utara, Indonesia

Sunday, 28 December 2025

KONSEP DASAR PENDIDIKAN DALAM ISLAM

 

KONSEP DASAR PENDIDIKAN DALAM ISLAM

(Ta’lim, Tarbiyah, dan Ta’dib)

Oleh : Riswan Zendrato

 

A.    Pendahuluan

Pendidikan memiliki peranan penting dalam kehidupan kita, mulai dari tingkat terkecil seperti keluarga dan terus membesar ketingkatan yang lebih besar seperti teman, dan masyarakat. Pendidikan berperan sebagai proses pendewasaan diri dan pembentukan pribadi manusia, membangun sebuah peradaban, khususnya peradaban yang Islami.

Bahkan, ayat pertama diturunkan oleh Allah sangat berhubungan dengan pendidikan. Proses dakwah Rasulullahpun dalam menyebarkan Islam dan membangun peradaban tidak lepas dari pendidikan Rasul terhadap para sahabat. Dimulai dari sebuah rumah kecil “Darul Arqom” sampai membentang ke seberang benua. Diawali beberapa sahabat sampai tersebar ke jutaan umat manusia di penjuru dunia. Sebuah proses yang pernah menorehkan sejarah peradaban yang membanggakan bagi umat Islam, Madinah Al Munawarah. Sejarahpun mencatat banyak Negara yang memperkokoh bangsanya ataupun bisa segera bangkit dari keterpurukan dengan upaya membangun pendidikan. Wajar, karena dari pendidikanlah lahir sebuah generasi yang diharapkan mampu membangun peradaban tersebut. Hal tersebut mengisyaratkan bahwa kemajuan pendidikan akan menjadi salah satu pengaruh kuat terhadap kemajuan atau kegemilangan sebuah peradaban.

Istilah Pendidikan dalam bahasa Inggris adalah  Education yang berasal dari bahasa Latin educere berarti memasukkan sesuatu, yang berarti memasukkan ilmu atau pengetahuan ke kepala seseorang.[1]

Merujuk kepada informasi al-Qur’an pendidikan mencakup segala aspek jagat raya ini, bukan hanya terbatas pada manusia semata, yakni dengan menempatkan Allah sebagai Pendidik Yang Maha Agung. Secara garis besar, konsepsi pendidikan dalam Islam adalah mempertemukan pengaruh dasar dengan pengaruh ajar. Pengaruh pembawaan dan pengaruh pendidikan diharapkan akan menjadi satu kekuatan yang terpadu yang berproses ke arah pembentukan kepribadian yang sempurna. Oleh karena itu, pendidikan dalam Islam tidak hanya menekankan kepada pengajaran yang berorientasi kepada intelektualitas penalaran, melainkan lebih menekankan kepada pendidikan yang mengarah kepada pembentukan kepribadian yang utuh dan bulat.

Untuk itu menjadi hal yang sangat penting dan mendasar bagi para muslim untuk memahami konsep pendidikan menurut Al Qur’an dan Al Sunnah. Konsep dasar yang perlu untuk dikaji berawal dari definisi atau pengertian pendidikan yang disandarkan pada Al Qur’an dan As Sunnah.

B.     Pengertian Pendidikan dan Pengajaran Dalam Islam

 

Istilah pendidikan sering kali tumpang tindih dengan istilah pengajaran. Oleh karena itu, tidak heran jika pendidikan terkadang juga dikatakan “pengajaran” atau sebaliknya, pengajaran disebut sebagai pendidikan. Ini adalah sesuatu yang rancu, sebagaimana orang sering keliru memahami istilah sekolah dan belajar. Belajar dikatakan identik dengan sekolah, padahal sekolah hanyalah satu dari tempat belajar bagi peserta didik. Belajar merupakan bagian dari proses pendidikan yang mencakup totalitas keunggulan kemanusiaan sebagai hamba (‘abd) dan pemakmur alam (khalifah) agar senantiasa bersahabat dan memberikan kemanfaatan untuk kehidupan bersama. [2]

Islam yang menjadikan Al-Qur’an dan Al Hadits sebagai konsep dasar pendidikan Islam. Sangat penting jika di awal kita memastikan pengertian pendidikan yang didasarkan pada Al Qur’an dan As Sunnah. Karena berangkat dari pengertian inilah akan menjadikan pondasi yang akan menyangkut konsep bangunan pendidikan itu sendiri. Istilahpun akan memberikan pemahaman yang utuh, mengingat istilah tidaklah bebas nilai akan tetapi sarat akan nilai-nilai yang mengikutinya. Dalam hal pendidikan, bersandar pada Al Qur’an dan Hadits dikenal beberapa istilah yang dianggap mewakili pengertian tersebut. Hal ini disebabkan istilah pendidikan tidak disebutkan secara langsung dalam Al Qur’an dan Al Hadits.

Sebenarnya, banyak istilah yang dianggap mendekati makna pendidikan, diantaranya Al Tansyi’ah, al Islah, Al Ta’dib atau al Adab, Al Tahzib, Al Tahir, Al Tazkiyyah, Al Ta’lim, Al Siyasah, Al Nash wa Al Irsyad dan al Akhlaq. Namun, hasil konferensi Internasional pertama tentang pendidikan Islam menyimpulkan bahwa pengertian pendidikan menurut Islam adalah keseluruhan pengertian yang terkandung dalam ta’lim, tarbiyah dan ta’dib.[3]

 Didalam Al-Qur’an  dan Hadits kata pendidikan menggunakan beberapa istilah diantaranya :

1.      Pendidikan diartikan dengan istilah ta’lim 

Kata ta’lim تعليم  ini dapat kita temukan di dalam Al-Qur’an pada surah Al-Baqarah ayat 31 yang berbunyi :

 

Artinya :

“Dan Dia mengajarkan kepada Adam Nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada Para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar”(QS. Al Baqarah : 31)[4]

 

2.      Pendidikan diartikan dengan istilah tarbiyah

Kemudian pendidikan di dalam Al-Qur’an  dan Hadits juga diartikan dengan istilah tarbiyah تربية   sebagaimana yang terdapat dalam potongan surah  Al Israa’ ayat 24 sebagai berikut :

...... رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا (بنى اسرائيل:٢٤)

 Artinya :

"Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil".(QS Bani Israil :24)[5]

 

3.      Pendidikan diartikan dengan istilah ta’dib

Selanjutnya kata ta’dib تأديب  sebagai arti pendidikan terdapat dalam sebuah Hadits Rasulullah saw yang berbunyi :

اَدَّ بَنِى رَبِّى فَأَ حْسَنَ تَأْدِيْبِى .

Artinya :

“Allah mendidikku, maka ia memberikan kepadaku sebaik-baik pendidikan”.[6]

Pendidikan dalam bahasa Arab disebut tarbiyah yang berasal dari kerja rabba, sedang pengajaran dalam bahasa Arab disebut dengan ta’lim yang berasal dari kata kerja ‘allama. Pendidikan Islam sama dengan Tarbiyah Islamiyah kata rabba  beserta cabangnya banyak dijumpai dalam Al-Qur’an

Untuk memahami secara mendalam ketiga istilah pendidikan yang disampaikan diatas, maka perlu dijelaskan pembahasan masing-masing sebagai berikut :

 

1.      Pembahasan Ta’lim

Menurut kamus Kontenporer Arab Indonesia , Atabik Ali A. Zuhdi Muhdlor mengatakan bahwa, kata “ta’lim” sepadan dengan kata darrasa, terambil dari állama-yu’allimu-ta’liman, (علم – يعلم - تعليما), artinya menurut bahasa adalah mengajar atau mendidik.[7] Secara istilah berarti pengajaran yang bersifat pemberian atau penyampain pengertian, pengetahuan dan ketrampilan.

At-Ta’lim sebagai masdar dari ‘allama hanya bersifat khusus dibandingkan al-Tarbiyah. Al-Attas mengartikan ta’lim sebagai pengajaran sehingga lebih sempit dari pendidikan.[8]

Dalam literatur-literatur lain dikatan bahwa kata-kata ta’lim terdapat dalam Al-Qur’an sebanyak 41 kali ( 25 fi’il Madi dan 16 fi’il Mudari’), yang mengandung arti banyak sekali, yang diantaranya : informasi, nasehat, pengajaran, bimbingan, ajaran, pendidikan formal, latihan, pendidikan, dan pekerjaan magang.[9]

Para pakar pendidikan dalam memberikan arti al-Ta’lim miliki cara yang beragam diantaranya :[10]

a.       Sayid Muhammad  Naquid mengartikan at-Ta’lim  disinonimkan dengan pengajaran tanpa adanya pengenalan secara mendasar, namun bila at-Ta’lim disinonimkan dengan ­al-Tarbiyah, al-Ta’lim mempunyai arti pengenalan tempat segala sesuatu dalam sebuah sistem.

b.      Abdul Fatah Jalal mendefinisikan ­at-Ta’lim sebagai proses pemberian pengetahuan, pemahaman, pengertian, tanggung jawab, dan penanaman amanah, sehingga penyucian atau pembersihan diri manusia dari segala kotoran dan menjadikan diri manusia itu berada dalam suatu kondisi yang memungkinkan untuk menerima al-Hikmah serta mempelajari segala apa yang bermanfaat baginya dan yang tidak diketahui.

c.       Menurut Rasyid  Ridha, al-Ta’lim dapat diartikan sebagai proses transmisi berbagai ilmu pengetahuan pada jiwa individu tanpa adanya batasan dan ketentuan tertentu.

d.      Menurut Muhammad Athiyah Al-Abrasyi, al-Ta’lim lebih khusus dibandingkan dengan al-Tarbiyah karena at-Ta’lim hanya merupakan upaya menyiapkan individu dengan mengacu pada aspek-aspek tertentu saja, sedangkan ­at-Tarbiyah mencakup keseluruhan aspek-aspek pendidikan.

Dalam surat Al Jum’ah ayat 2,

هُوَ الَّذِيْ بَعَثَ فِى الْاُمِّيّٖنَ رَسُوْلًا مِّنْهُمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِهٖ وَيُزَكِّيْهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَاِنْ كَانُوْا مِنْ قَبْلُ لَفِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍۙ ۝٢

 “Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan hikmah (As Sunnah). dan Sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata”

Dalam surat yang diturunkan di Madinah tersebut menggunakan  yu’allimu, yang merupakan salah satu kata dasar yang membentuk istilah ta’lim. Yu’allimu diartikan dengan mengajarkan, untuk itu istilah ta’lim diterjemahkan dengan pengajaran (instruction).

Dari ayat tersebut juga bisa dimaknai bahwa Rasulullah juga seorang mu’allim, hal ini memperkuat sungguh dari beliau adanya keteladanan, termasuk bagaimana seharusnya menjadi seorang muallim.

Jadi, Ta’lim secara umum hanya terbatas pada pengajaran dan pendidikan kognitif semata-mata. Hal ini memberikan pemahaman bahwa ta’lim hanya mengedepankan proses pengalihan ilmu pengetahuan dari pengajar (mu’alim) dan yang diajar (muta’alim).

Namun, istilah ta’lim menunjukkan bahwa ilmu yang bisa untuk dialihkan meliputi semua ilmu termasuk diantaranya sihir. Sehingga memang istilah tersebut lebih dekat pada pengajaran bukan pendidikan, karena pendidikan dalam pengertian Islam tentu saja harus mengarah pada manusia yang lebih baik, sesuai peran dan fungsinya didunia ini menurut Al Qur’an dan As Sunnah.

 

2.      Pengertian Tarbiyah

Kata Tarbiyah sudah sangat akrab di telinga kita terutama bagi yang berkecimpung di dunia pendidikan Islam. Kata Tarbiyah bahkan menjadi nama salah satu Fakultas di Perguruan tinggi Islam seperti IAIN, dan STAI juga banyak para pakar dan ilmuan pendidikan Islam menggunakan kata tarbiyah dalam judul buku-buku yang mereka tulis seperti, al-Tarbiyah al-Islamiyah wa Falasifatatuha, Falsafah al-Tarbiyah al-Islamiyah, al-Tarbiyah al-Islamiyah, dan lain-lainnya.

Akan tetapi dalam leksikologi al-Qur’an dan al-Sunnah tidak ditemukan  istilah at-tarbiyah, melainkan beberapa istilah kunci yang seakar dengannya, yaitu rabba (qs. Al-Fatihah : 2, Al-A’raf : 61), rabbayani (QS. Al-Isra’ : 24), nurabbi (QS. Asy-Syua’ara : 18), yarbu (QS. Al-Rum : 39), dan rabbani (QS. Ali Imran : 79 dan QS. Al-Maidah : 44).[11]

Secara umum kata tarbiyat dapat dikembalikan kepada tiga kata kerja yang berbeda. Pertama, kata rabba-yarbu ( ربا-يربو ) yang berarti berkembang nama-yanmu (نما-ينمو). Kedua rabiya-yarba ( ربي-يربي ) yang bermakna nasyaa, tara’ra’a (tumbuh). Ketiga, rabba-yarubbu ( ربّ – يربّ ) yang berarti aslahahu, tawalla amrahu, sasaahu, wa qama ‘alaihi, wa ra’aahu yang berarti memperbaiki, mengurus,memimpin, menjaga, dan memeliharanya atau mendidik (Hamzah, 1996: 6).

Dalam mengartikan kata at-Tarbiyah, para pakar pendidikan mempunyai pendapat yang beragam diantaranya :

a.       Menurut Mustafa Al-Ghalayani, at-Tarbiyah adalah penanaman etika yang mulia pada anak yang sedang tumbuh dengan cara memberi petunjuk dan nasehat, sehingga ia memiliki potensi dan kompetensi jiwa yang mantap, yang dapat membuahkan sifat-sifat bijak, baik, cinta akan kreasi, dan berguna bagi tanah air.

b.      Menurut Muhammad Jamaluddin al-Qosimi, bahwa al-Tarbiyah ialah proses penyampaian sesuatu pada batas kesempurnaan yang dilakukan secara tahap demi tahap.

c.       Menurut Al-Asfahami, bahwa at-Tarbiyah, ialah proses menumbuhkan sesuatu secara bertahap yang dilakukan sedikit demi sedikit sesuai pada batas kesempurnaan.

d.      Menurut Abdul Fatah Jalal, at-Tarbiyah adalah proses persiapan dan pengasuhan pada fase pertama pertumbuhan manusia, atau menurut istilah yang biasa dipakai pada saat ini ialah pada fase bayi dan anak-anak. Pengertian tersebut diambil dari maksud firman Allah dalam surah Al Isra’ ayat 24.

 

Dari keempat pendapat tersebut diatas, at-Tarbiyah diartikan proses penanaman etika yang mulia untuk menuju kesempurnaan dengan cara memberi petunjuk dan nasehat sedikit demi sedikit secara bertahap sesuai dengan fase pertumbuhannya.

Jika kita pahami lebih lanjut dari keempat pendapat tersebut diatas bahwa objek at-Tarbiyah diatas ditujukan bagi manusia. Sementara Menurut Al Attas, secara semantik istilah tarbiyah tidak tepat dan tidak memadai untuk membawakan konsep pendidikan dalam pengertian Islam, sebagaimana dipaparkan :[12]

1.      Istilah tarbiyah yang dipahami dalam pengertian pendidikan sebagaimana dipergunakan di masa kini tidak bisa ditemukan dalam leksikon-leksikon bahasa Arab besar.

2.      Tarbiyah dipandang sebagai pendidikan, dikembangkan dari penggunaan Al Qur’an dengan istilah raba dan rabba yang berarti sama, tidak secara alami mengandung unsur-unsur esensial pengetahuan, intelegensi dan kebajikan yang pada hakikatnya merupakan unsur-unsur pendidikan yang sebenarnya.

3.      Jika sekiranya dikatakan bahwa suatu makna yang berhubungan dengan pengetahuan disusupkan ke dalam konsep rabba, maka makna tersebut mengacu pada pemilikan pengetahuan dan bukan penanamannya.

Lebih lanjut al-Attas menyatakan, kata tarbiyah pada surah al-Isra’ ayat 24 diatas tadi bukanlah dimaksudkan dengan pendidikan. Tindakan tarbiyah kedua ibu bapak kepada anaknya bukanlah pendidikan, tetapi tindakan rahmah, kasih sayang, yang mengandung arti pemberian  makna, pakaian, tempat berteduh dan perawatan (pemeliharaan) dan sekali lagi bukanlah pendidikan. [13]

Jadi, tarbiyah itu berarti mengasuh, menanggung, memberikan makan, mengembangkan, memelihara, membuat, menjadikan bertambah dalam pertumbuhan, membesarkan, memproduksi hasil-hasil yang sudah matang dan menjinakkan.[14]

Selanjutnya, tarbiyah tidak hanya untuk species manusia saja, akan tetapi medan semantiknya meluas spicies-spicies lainnya seperti mineral, tanaman-tanaman dan hewan, sedangkan pendidikan dalam Islam khusus untuk manusia. Dengan demikian, jika tarbiyah dikenakan juga pada selain manusia, maka pendidikan tentunya boleh pula dilakukan pada binatang, jadi kita akan mengenal pula pendidikan ayam, dan bukan peternakan ayam saja, kata al-Attas. [15]

Sehingga dari perspektif al-Attas, bahwa tarbiyah tidaklah tepat untuk membawakan atau berarti konsep pendidikan Islam. Begitu juga dengan ta’lim itu lebih sempit dari pendidikan.

3.      Pengertian Ta’dib

Di dalam Al-Qur’an istilah ta’dib sebenarnya tidak ditemukan, akan tetapi istilah ini dapat kita jumpai dalam hadits Rasulullah SAW, sebagaimana dalam hadits riwayat al-‘Askary ra. Sebagai berikut :

اَدَّ بَنِى رَبِّى فَأَ حْسَنَ تَأْدِيْبِى .

Artinya :

“Allah mendidikku, maka Ia memberikan kepadaku sebaik-baik pendidikan”. (HR. al-‘Askary dari ‘Ali).

Sebenarnya istilah ta’dib sudah sering digunakan oleh masyarakat arab pada jaman dahulu dalam hal pelaksanaan proses pendidikan. Ini sesuai yang dikatakan Shalaby, bahwa terma ta’dib sudah digunakan pada masa Islam klasik, terumatama untuk pendidikan yang diselenggarakan di kalngan istana para khalifah.[16] Perkataan adab dalam tradisi arab dikaitkan dengan kemuliaan dan ketinggian pribadi seseorang.

Dalam perkembangan sejarah peradaban Islam semenjak masa Nabi saw sampai masa keemasan Islam pada masa Bani Abbas, justru kata tarbiyah tak pernah muncul dalam literatur-literatur pendidikan. Pada masa klasik, orang hanya mengenal kata ta'dib untuk menunjuk kepada arti pendidikan. seperti tersebut dalam hadits Nabi:

أدبني ربي فأحسن تأديبي

Tuhan telah mendidikku sehingga pendidikanku menjadi baik

Pengertian semacam ini terus terpakai sepanjang masa kejayaan Islam. Sehingga semua ilmu pengetahuan yang dihasilkan oleh akal manusia disebut adab, baik yang berhubungan dengan Islam seperti Fiqih, Tafsir, Tauhid maupun yang tidak berhubungan langsung seperti Fisika, Filsafat, Kedokteran, Astronomi, Farmasi, dan Bahasa. Semua buku yang memuat ilmu tersebut dinamai kutubul adab. Dari sana kita mengenal al-Adab al-Kabir dan al-Adab al-Shagir yang ditulis oleh Ibn al-Muqaffa (w. 760 M). Seorang ahli pendidik di masa itu disebut muaddib. Kemudian ketika para ulama menjurus kepada bidang spesialisasi dalam ilmu pengetahuan, maka pengertian adab menyempit, yaitu hanya dipakai untuk menunjuk 4 kesusastraan dan etika; konsekuensinya ta'dib sebagai konsep pendidikan Islam hilang dari peredaran dan tidak dikenal lagi; sehingga ketika itu ahli pendidik Islam bertemu dengan istilah education, mereka langsung menerjemahkannya dengan istilah tarbiyah tanpa penelitian yang mendalam, padahal makna pendidikan dalam Islam tidak sama dengan education yang dikembangkan di Barat.[17]

Menurut al-Attas, konsekuensi hilangnya ta’dib sebagai pendidikan dan konsep pendidikan Islam dari peredaran dan tidak dikenal lagi, menjadikan hilangnya adab, yang berarti hilangnya keadilan yang pada akhirnya menimbulkan kebingungan  serta kesalahan dalam pengetahuan. Kesemuanya itu telah melanda kaum muslim sejak dulu sampai sekarang.

Di dalam Kamus Kontemporer Arab Indonesia, Atabik Ali A. Zuhdi Muhdlor mengatakan bahwa , kata ta’dib, terambil dari addaba-yuaddibu-ta’diban, diartikan dengan mendidik, memperbaiki akhlak dan pengajaran.[18]

Ta’dib sebagai upaya dalam pembentukan adab (tata krama), terbagi atas empat macam :[19]

1.      Ta’dib adalah al-haqq, pendidikan tata krama spiritual dalam kebenaran, yang di dalamnya segala yang ada memiliki kebenaran dan dengannya segala sesuatu diciptakan.

2.      Ta’dib adab al-Khidmah, pendidikan tata krama spiritual dalam pengabdian.

3.      Ta’dib adab al-Syari’ah, pendidikan tata krama yang tata caranya telah digariskan oleh Allah melalui wahyu.

4.      Ta’dib adab al-shuhbah, pendidikan tata krama dalam persahabatan, berupa saling menghormati dan saling tolong menolong.

Menurut Al-Attas, Ta’dib berarti pengenalan dan pengkuan secara berangsur-angsur ditanamkan ke dalam diri manusia tentang tempat-tempat yang tepat bagi segala sesuatu di dalam tatanan penciptaan. Dengan demikian pendidikan berfungsi sebagai pembimbing ke arah pengenalan dan pengakuan tempat Tuhan yang tepat dalam tatanan wujud dan kepribadian .[20]

Sehubungan pendapat Al-Attas di atas, Dr. Al-Rasyidin, M.Ag menjelaskan bahwa pengenalan dimaksud adalah mengetahui kembali (recognize) perjanjian pertama (Primordial Covenant) antara manusia dan Tuhan sebagaimana yang dinukilkan dalam al-Qur’an Surah Al ‘Araf : 172 :[21]

وَاِذْ اَخَذَ رَبُّكَ مِنْۢ بَنِيْٓ اٰدَمَ مِنْ ظُهُوْرِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَاَشْهَدَهُمْ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْۚ اَلَسْتُ بِرَبِّكُمْۗ قَالُوْا بَلٰىۛ شَهِدْنَاۛ….

Dan  (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah aku ini Tuhanmu?" mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), Kami menjadi saksi ....

Selanjutnya Ar-Rasyidin mengatakan bahwa pengakuan bermakna melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang telah dikenal. Dalam konteks ini, pengakuan adalah semacam “afirmasi” dan “konfirmasi” atau “realisasi” dan “aktualisasi” di dalam diri seseorang mengenai apa yang sudah diketahui atau dikenalkanNya (Tuhan).[22]

Atas dasar itu, al-Attas berkesimpulan bahwa istilah al-Ta’dib merupakan term yang paling cocok dalam khazanah bahasa Arab untuk pendidikan Islam, karena mengandung arti ilmu, kearifan, keadilan, kebijaksanaan, pengajaran dan pengasuhan yang baik, sehingga makna at- al-Ta’lim dan Tarbiyah sudah cukup dalam term al-Ta’dib.

Meskipun pendapat al-Attas di atas mengandung kebenaran, akan tetapi seluruh negeri-negeri Islam telah menerima kata Tarbiyah untuk pengertian pendidikan, sedangkan kata Ta’dib sekarang kurang populer.[23]

C.    Kesimpulan

Ta’lim hanya terbatas pada pengajaran dan pendidikan kognitif semata-mata, sehingga ta’lim hanya mengedepankan proses pengalihan ilmu pengetahuan dari pengajar (mu’alim) dan yang diajar (muta’alim). Namun, dalam ta’lim menunjukkan bahwa ilmu yang bisa untuk dialihkan meliputi semua ilmu termasuk diantaranya sihir. Sehingga memang istilah tersebut lebih dekat pada pengajaran bukan pendidikan, karena pendidikan dalam pengertian Islam tentu saja harus mengarah pada manusia yang lebih baik, sesuai peran dan fungsinya didunia ini menurut Al Qur’an dan As Sunnah.

Tarbiyah merupkan proses penanaman etika yang mulia untuk menuju kesempurnaan dengan cara memberi petunjuk dan nasehat sedikit demi sedikit secara bertahap sesuai dengan fase pertumbuhannya. Tarbiyah mencakup kognitif, afektif, dan psikomotorik. Selanjutnya, tarbiyah tidak hanya untuk species manusia saja, akan tetapi medan semantiknya meluas spicies-spicies lainnya seperti mineral, tanaman-tanaman dan hewan, sedangkan pendidikan dalam Islam khusus untuk manusia.

Ta’dib berarti pengenalan dan pengkuan secara berangsur-angsur ditanamkan ke dalam diri manusia tentang tempat-tempat yang tepat bagi segala sesuatu di dalam tatanan penciptaan. Dengan demikian pendidikan berfungsi sebagai pembimbing ke arah pengenalan dan pengakuan tempat Tuhan yang tepat dalam tatanan wujud dan kepribadian. Pada Ta’dib pendidikan yang mengedepankan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik, agar dapat membentuk pribadi manusia beriman dan beramal shaleh.

  DAFTAR PUSTAKA

 

Abdul Mujib, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta : Kencana Prenada Media, 2006).

Abdul Mujid dan Jusuf Mudzakkir, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta : Fajar Interpretama, 2008)

Ahmad Shalaby, Sejarah Pendidikan Islam, terj. Muchtar Yahya dan M. Sanusi Latief (Singapura: Pustaka Nasional Singapura, 1976).

Al-Attas, Muhammad al-Naquid, Konsep Pendidikan Dalam Islam, Suatu Rangka Pikir Pembinaan Filsafat Pendidikan Islam, Terj. HaidarBaqir, (Bandung : Mirzan, 1978).

Al-Rasyidin, Falsafah Pendidikan Islam, (Bandung: Cipta Pustaka, 2012), Cet. 3.

Atabik Ali A. Zuhdi Muhdlor, Kontemporer Arab Indonesia,(Yogyakarta : Multi Grafika, 1998).

Badaruddin, Kemas, FilsafatPendidikan Islam, Analisis Pemikiran Prof.Dr. Syed Muhammad Al-Nuquib al-Attas, (Bengkulu : Pustaka Pelajar, 2009).

Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahannya, (Semarang: Kumudasmoro, 1994).

Fakhrur Razi Dalimunthe, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, (Medan: IAIN Press, 1991), Cet. 3.

Langgulung, Hasan, Asas-asas Pendidikan  Islam, (Jakarta : Pustaka Al-Hakim, 1987).

Raqib, Mohammad, Ilmu Pendidikan Islam. Pengembangan Pendidikan Integratif di Sekolah, Keluarga, dan Masyarakat, (Yogyakarta : LKISYogyakarta, 2008).

Tengku Saifullah, Nalar Pendidikan Islam, Ikhtiar Memahami Pendidikan Islam dalam berbagai Perspektif, (Bandung : Citapsutaka Media Perintis, 2011).


[1] Hasan Langgulung, Asas-asas Pendidikan  Islam, (Jakarta : Pustaka Al-Hakim, 1987), cet. 2, h. 4.

[2] Moh. Raqib, Ilmu Pendidikan Islam. Pengembangan Pendidikan Integratif di Sekolah, Keluarga, dan Masyarakat, (Yogyakarta : LKISYogyakarta, 2008), h. 13.

[3] Abdul Mujid dan Jusuf Mudzakkir, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta : Fajar Interpretama, 2008), h. 10-11.

[4] Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahannya, (Semarang: Kumudasmoro, 1994), h. 14.

[5] Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahannya, h.428.

[6] HR. Ibn ‘Asakir dari Ali ra.

[7] Atabik Ali A. Zuhdi Muhdlor, Kontemporer Arab Indonesia,(Yogyakarta : Multi Grafika, 1998), h. 1314.

[8] Kemas Badaruddin, FilsafatPendidikan Islam, Analisis Pemikiran Prof.Dr. Syed Muhammad Al-Nuquib al-Attas, (Bengkulu : Pustaka Pelajar, 2009), Cet. 2, h. 28.

[9] Lihat Hans Wehr, A Dictionery Modern Written Arabic, Arabic English, Edited by J. Milton Cowas, (Beirut : Libraire Du Liban, 1980), h. 636.

[10] Tengku Saifullah, Nalar Pendidikan Islam, Ikhtiar Memahami Pendidikan Islam dalam berbagai Perspektif, (Bandung : Citapsutaka Media Perintis, 2011), h. 7

[11] Tengku Saifullah, Nalar Pendidikan Islam, h. 2.

[12] Muhammad al-Naquid al-Attas, Konsep Pendidikan Dalam Islam, Suatu Rangka Pikir Pembinaan Filsafat Pendidikan Islam, Terj. HaidarBaqir, (Bandung : Mirzan, 1978), h. 65.

[13] Al-Attas, Konsep Pendidikan, h. 70.

[14] Al-Attas, Konsep Pendidikan, h. 66.

[15] Al-Attas, Konsep Pendidikan, h. 67.

[16] Ahmad Shalaby, Sejarah Pendidikan Islam, terj. Muchtar Yahya dan M. Sanusi Latief (Singapura: Pustaka Nasional Singapura, 1976), h. 32

[17] Shofjan Taftazani dan Maman Abdurrahman, Makalah Konsep Tarbiyat Pendidikan Dalam  Al-Qur’an Sebuah Kajian Semantis Berdasar Ayat-ayat Quran.

 

[18] Atabik Ali A. Zuhdi Muhdlor, Kontemporer Arab Indonesia,(Yogyakarta : Multi Grafika, 1998), h. 64.

[19] Abdul Mujib, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta : Kencana Prenada Media, 2006), hal. 20-21.

[20] Al-Attas, Konsep Pendidikan dalam Islam, h. 61

[21] Al-Rasyidin, Falsafah Pendidikan Islam, (Bandung: Cipta Pustaka, 2012), Cet. 3, h. 117.

[22] Al-Rasyidin, Falsafah Pendidikan, h. 118

[23] Fakhrur Razi Dalimunthe, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, (Medan: IAIN Press, 1991), Cet. 3, h. 52.