KONSEP DASAR PENDIDIKAN DALAM ISLAM
(Ta’lim,
Tarbiyah, dan Ta’dib)
Oleh : Riswan Zendrato
A.
Pendahuluan
Pendidikan
memiliki peranan penting dalam kehidupan kita, mulai dari tingkat terkecil
seperti keluarga dan terus membesar ketingkatan yang lebih besar seperti teman,
dan masyarakat. Pendidikan berperan sebagai proses pendewasaan diri dan
pembentukan pribadi manusia, membangun sebuah
peradaban, khususnya peradaban yang Islami.
Bahkan, ayat pertama diturunkan oleh Allah
sangat berhubungan dengan pendidikan. Proses dakwah Rasulullahpun dalam
menyebarkan Islam dan membangun peradaban tidak lepas dari pendidikan Rasul
terhadap para sahabat. Dimulai dari sebuah rumah kecil “Darul Arqom” sampai
membentang ke seberang benua. Diawali beberapa sahabat sampai tersebar ke
jutaan umat manusia di penjuru dunia. Sebuah proses yang pernah menorehkan
sejarah peradaban yang membanggakan bagi umat Islam, Madinah Al Munawarah.
Sejarahpun mencatat banyak Negara yang memperkokoh bangsanya ataupun bisa
segera bangkit dari keterpurukan dengan upaya membangun pendidikan. Wajar,
karena dari pendidikanlah lahir sebuah generasi yang diharapkan mampu membangun
peradaban tersebut. Hal tersebut mengisyaratkan bahwa kemajuan pendidikan akan
menjadi salah satu pengaruh kuat terhadap kemajuan atau kegemilangan sebuah
peradaban.
Istilah Pendidikan dalam bahasa Inggris adalah Education yang berasal dari bahasa Latin educere
berarti memasukkan sesuatu, yang berarti memasukkan ilmu atau pengetahuan ke
kepala seseorang.[1]
Merujuk
kepada informasi al-Qur’an pendidikan mencakup segala aspek jagat raya ini,
bukan hanya terbatas pada manusia semata, yakni dengan menempatkan Allah
sebagai Pendidik Yang Maha Agung. Secara garis besar, konsepsi pendidikan dalam
Islam adalah mempertemukan pengaruh dasar dengan pengaruh ajar. Pengaruh
pembawaan dan pengaruh pendidikan diharapkan akan menjadi satu kekuatan yang
terpadu yang berproses ke arah pembentukan kepribadian yang sempurna. Oleh
karena itu, pendidikan dalam Islam tidak hanya menekankan kepada pengajaran
yang berorientasi kepada intelektualitas penalaran, melainkan lebih menekankan
kepada pendidikan yang mengarah kepada pembentukan kepribadian yang utuh dan bulat.
Untuk itu menjadi hal yang sangat penting
dan mendasar bagi para muslim untuk memahami konsep pendidikan menurut Al
Qur’an dan Al Sunnah. Konsep dasar yang perlu untuk dikaji berawal dari
definisi atau pengertian pendidikan yang disandarkan pada Al Qur’an dan As
Sunnah.
B.
Pengertian Pendidikan dan Pengajaran
Dalam Islam
Istilah pendidikan
sering kali tumpang tindih dengan istilah pengajaran. Oleh karena itu, tidak
heran jika pendidikan terkadang juga dikatakan “pengajaran” atau sebaliknya,
pengajaran disebut sebagai pendidikan. Ini adalah sesuatu yang rancu,
sebagaimana orang sering keliru memahami istilah sekolah dan belajar. Belajar
dikatakan identik dengan sekolah, padahal sekolah hanyalah satu dari tempat
belajar bagi peserta didik. Belajar merupakan bagian dari proses pendidikan
yang mencakup totalitas keunggulan kemanusiaan sebagai hamba (‘abd) dan
pemakmur alam (khalifah) agar senantiasa bersahabat dan memberikan
kemanfaatan untuk kehidupan bersama. [2]
Islam yang
menjadikan Al-Qur’an dan Al Hadits sebagai konsep dasar pendidikan Islam. Sangat
penting jika di awal kita memastikan pengertian pendidikan yang didasarkan pada
Al Qur’an dan As Sunnah. Karena berangkat dari pengertian inilah akan
menjadikan pondasi yang akan menyangkut konsep bangunan pendidikan itu sendiri.
Istilahpun akan memberikan pemahaman yang utuh, mengingat istilah tidaklah
bebas nilai akan tetapi sarat akan nilai-nilai yang mengikutinya. Dalam hal
pendidikan, bersandar pada Al Qur’an dan Hadits dikenal beberapa istilah
yang dianggap mewakili pengertian tersebut. Hal ini disebabkan istilah
pendidikan tidak disebutkan secara langsung dalam Al Qur’an dan Al Hadits.
Sebenarnya, banyak istilah yang dianggap mendekati makna
pendidikan, diantaranya Al Tansyi’ah, al Islah, Al Ta’dib atau al Adab, Al
Tahzib, Al Tahir, Al Tazkiyyah, Al Ta’lim, Al Siyasah, Al Nash wa Al Irsyad dan
al Akhlaq. Namun, hasil konferensi
Internasional pertama tentang pendidikan Islam menyimpulkan bahwa pengertian
pendidikan menurut Islam adalah keseluruhan pengertian yang terkandung dalam ta’lim,
tarbiyah dan ta’dib.[3]
Didalam Al-Qur’an dan Hadits kata pendidikan menggunakan
beberapa istilah diantaranya :
1.
Pendidikan
diartikan dengan istilah ta’lim
Kata ta’lim تعليم
ini dapat kita temukan di dalam Al-Qur’an pada surah
Al-Baqarah ayat 31 yang berbunyi :
Artinya :
“Dan Dia mengajarkan kepada Adam Nama-nama (benda-benda) seluruhnya,
kemudian mengemukakannya kepada Para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah
kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar”(QS.
Al Baqarah : 31)[4]
2.
Pendidikan
diartikan dengan istilah tarbiyah
Kemudian pendidikan di dalam Al-Qur’an dan Hadits juga diartikan dengan istilah tarbiyah
تربية sebagaimana yang terdapat dalam
potongan surah Al Israa’ ayat 24 sebagai
berikut :
...... رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا (بنى اسرائيل:٢٤)
Artinya :
"Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua
telah mendidik aku waktu kecil".(QS Bani Israil :24)[5]
3.
Pendidikan
diartikan dengan istilah ta’dib
Selanjutnya kata ta’dib تأديب sebagai arti pendidikan terdapat dalam
sebuah Hadits Rasulullah saw yang berbunyi :
اَدَّ بَنِى
رَبِّى فَأَ حْسَنَ تَأْدِيْبِى .
Artinya :
“Allah mendidikku, maka ia memberikan kepadaku
sebaik-baik pendidikan”.[6]
Pendidikan
dalam bahasa Arab disebut tarbiyah yang berasal dari kerja rabba,
sedang pengajaran dalam bahasa Arab disebut dengan ta’lim yang berasal
dari kata kerja ‘allama. Pendidikan Islam sama dengan Tarbiyah
Islamiyah kata rabba beserta
cabangnya banyak dijumpai dalam Al-Qur’an
Untuk memahami
secara mendalam ketiga istilah pendidikan yang disampaikan diatas, maka perlu
dijelaskan pembahasan masing-masing sebagai berikut :
1.
Pembahasan Ta’lim
Menurut kamus Kontenporer Arab Indonesia , Atabik Ali A.
Zuhdi Muhdlor mengatakan bahwa, kata “ta’lim” sepadan dengan kata darrasa,
terambil dari állama-yu’allimu-ta’liman, (علم – يعلم - تعليما), artinya menurut bahasa adalah mengajar atau mendidik.[7] Secara istilah berarti pengajaran
yang bersifat pemberian atau penyampain pengertian, pengetahuan dan
ketrampilan.
At-Ta’lim sebagai masdar
dari ‘allama hanya bersifat khusus dibandingkan al-Tarbiyah. Al-Attas
mengartikan ta’lim sebagai pengajaran sehingga lebih sempit dari
pendidikan.[8]
Dalam
literatur-literatur lain dikatan bahwa kata-kata ta’lim terdapat dalam
Al-Qur’an sebanyak 41 kali ( 25 fi’il Madi dan 16 fi’il Mudari’),
yang mengandung arti banyak sekali, yang diantaranya : informasi, nasehat,
pengajaran, bimbingan, ajaran, pendidikan formal, latihan, pendidikan, dan
pekerjaan magang.[9]
Para pakar pendidikan dalam memberikan arti al-Ta’lim
miliki cara yang beragam diantaranya :[10]
a.
Sayid Muhammad
Naquid mengartikan at-Ta’lim disinonimkan dengan pengajaran tanpa adanya
pengenalan secara mendasar, namun bila at-Ta’lim disinonimkan dengan al-Tarbiyah,
al-Ta’lim mempunyai arti pengenalan tempat segala sesuatu dalam sebuah
sistem.
b.
Abdul Fatah Jalal mendefinisikan at-Ta’lim
sebagai proses pemberian pengetahuan, pemahaman, pengertian, tanggung jawab,
dan penanaman amanah, sehingga penyucian atau pembersihan diri manusia dari
segala kotoran dan menjadikan diri manusia itu berada dalam suatu kondisi yang
memungkinkan untuk menerima al-Hikmah serta mempelajari segala apa yang
bermanfaat baginya dan yang tidak diketahui.
c.
Menurut Rasyid
Ridha, al-Ta’lim dapat diartikan sebagai proses transmisi
berbagai ilmu pengetahuan pada jiwa individu tanpa adanya batasan dan ketentuan
tertentu.
d.
Menurut Muhammad Athiyah Al-Abrasyi, al-Ta’lim
lebih khusus dibandingkan dengan al-Tarbiyah karena at-Ta’lim
hanya merupakan upaya menyiapkan individu dengan mengacu pada aspek-aspek
tertentu saja, sedangkan at-Tarbiyah mencakup keseluruhan aspek-aspek
pendidikan.
Dalam surat Al
Jum’ah ayat 2,
هُوَ
الَّذِيْ بَعَثَ فِى الْاُمِّيّٖنَ رَسُوْلًا مِّنْهُمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ
اٰيٰتِهٖ وَيُزَكِّيْهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَاِنْ
كَانُوْا مِنْ قَبْلُ لَفِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍۙ ٢
“Dia-lah yang
mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang
membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan
mereka Kitab dan hikmah (As Sunnah). dan Sesungguhnya mereka sebelumnya
benar-benar dalam kesesatan yang nyata”
Dalam surat yang
diturunkan di Madinah tersebut menggunakan yu’allimu,
yang merupakan salah satu kata dasar yang membentuk istilah ta’lim. Yu’allimu
diartikan dengan mengajarkan, untuk itu istilah ta’lim diterjemahkan
dengan pengajaran (instruction).
Dari
ayat tersebut juga bisa dimaknai bahwa Rasulullah juga seorang mu’allim,
hal ini memperkuat sungguh dari beliau adanya keteladanan, termasuk bagaimana
seharusnya menjadi seorang muallim.
Jadi, Ta’lim
secara umum hanya terbatas pada pengajaran dan pendidikan kognitif semata-mata.
Hal ini memberikan pemahaman bahwa ta’lim hanya mengedepankan proses pengalihan
ilmu pengetahuan dari pengajar (mu’alim) dan yang diajar (muta’alim).
Namun, istilah ta’lim
menunjukkan bahwa ilmu yang bisa untuk dialihkan meliputi semua ilmu termasuk
diantaranya sihir. Sehingga memang istilah tersebut
lebih dekat pada pengajaran bukan pendidikan, karena pendidikan dalam
pengertian Islam tentu saja harus mengarah pada manusia yang lebih baik, sesuai
peran dan fungsinya didunia ini menurut Al Qur’an dan As Sunnah.
2.
Pengertian Tarbiyah
Kata
Tarbiyah sudah sangat akrab di telinga kita terutama bagi yang
berkecimpung di dunia pendidikan Islam. Kata Tarbiyah bahkan menjadi nama salah satu
Fakultas di Perguruan tinggi Islam seperti IAIN, dan STAI juga banyak para
pakar dan ilmuan pendidikan Islam menggunakan kata tarbiyah dalam judul
buku-buku yang mereka tulis seperti, al-Tarbiyah al-Islamiyah wa
Falasifatatuha, Falsafah al-Tarbiyah al-Islamiyah, al-Tarbiyah al-Islamiyah,
dan lain-lainnya.
Akan
tetapi dalam leksikologi al-Qur’an dan al-Sunnah tidak ditemukan istilah at-tarbiyah, melainkan
beberapa istilah kunci yang seakar dengannya, yaitu rabba (qs.
Al-Fatihah : 2, Al-A’raf : 61), rabbayani (QS. Al-Isra’ : 24), nurabbi
(QS. Asy-Syua’ara : 18), yarbu (QS. Al-Rum : 39), dan rabbani (QS.
Ali Imran : 79 dan QS. Al-Maidah : 44).[11]
Secara umum kata tarbiyat dapat dikembalikan kepada tiga
kata kerja yang berbeda. Pertama, kata rabba-yarbu ( ربا-يربو ) yang berarti
berkembang nama-yanmu (نما-ينمو). Kedua rabiya-yarba ( ربي-يربي ) yang bermakna
nasyaa, tara’ra’a (tumbuh). Ketiga, rabba-yarubbu ( ربّ – يربّ ) yang berarti
aslahahu, tawalla amrahu, sasaahu, wa qama ‘alaihi, wa ra’aahu yang berarti memperbaiki,
mengurus,memimpin, menjaga, dan memeliharanya
atau mendidik (Hamzah, 1996: 6).
Dalam mengartikan kata at-Tarbiyah, para pakar
pendidikan mempunyai pendapat yang beragam diantaranya :
a.
Menurut Mustafa Al-Ghalayani, at-Tarbiyah adalah
penanaman etika yang mulia pada anak yang sedang tumbuh dengan cara memberi
petunjuk dan nasehat, sehingga ia memiliki potensi dan kompetensi jiwa yang
mantap, yang dapat membuahkan sifat-sifat bijak, baik, cinta akan kreasi, dan
berguna bagi tanah air.
b.
Menurut Muhammad Jamaluddin al-Qosimi, bahwa al-Tarbiyah
ialah proses penyampaian sesuatu pada batas kesempurnaan yang dilakukan
secara tahap demi tahap.
c.
Menurut Al-Asfahami, bahwa at-Tarbiyah, ialah
proses menumbuhkan sesuatu secara bertahap yang dilakukan sedikit demi sedikit
sesuai pada batas kesempurnaan.
d.
Menurut Abdul Fatah Jalal, at-Tarbiyah adalah
proses persiapan dan pengasuhan pada fase pertama pertumbuhan manusia, atau
menurut istilah yang biasa dipakai pada saat ini ialah pada fase bayi dan
anak-anak. Pengertian tersebut diambil dari maksud firman Allah dalam surah Al
Isra’ ayat 24.
Dari
keempat pendapat tersebut diatas, at-Tarbiyah diartikan proses penanaman
etika yang mulia untuk menuju kesempurnaan dengan cara memberi petunjuk dan
nasehat sedikit demi sedikit secara bertahap sesuai dengan fase pertumbuhannya.
Jika kita pahami lebih lanjut dari keempat pendapat
tersebut diatas bahwa objek at-Tarbiyah diatas ditujukan bagi manusia. Sementara
Menurut Al Attas, secara semantik istilah tarbiyah
tidak tepat dan tidak memadai untuk membawakan konsep pendidikan dalam
pengertian Islam, sebagaimana dipaparkan :[12]
1. Istilah tarbiyah yang dipahami
dalam pengertian pendidikan sebagaimana dipergunakan di masa kini tidak bisa
ditemukan dalam leksikon-leksikon bahasa Arab besar.
2. Tarbiyah dipandang sebagai pendidikan,
dikembangkan dari penggunaan Al Qur’an dengan istilah raba dan rabba
yang berarti sama, tidak secara alami mengandung unsur-unsur esensial
pengetahuan, intelegensi dan kebajikan yang pada hakikatnya merupakan
unsur-unsur pendidikan yang sebenarnya.
3.
Jika sekiranya dikatakan
bahwa suatu makna yang berhubungan dengan pengetahuan disusupkan ke dalam
konsep rabba, maka makna tersebut mengacu pada pemilikan pengetahuan
dan bukan penanamannya.
Lebih lanjut al-Attas menyatakan, kata tarbiyah
pada surah al-Isra’ ayat 24 diatas tadi bukanlah dimaksudkan dengan
pendidikan. Tindakan tarbiyah kedua ibu bapak kepada anaknya bukanlah
pendidikan, tetapi tindakan rahmah, kasih sayang, yang mengandung arti
pemberian makna, pakaian, tempat
berteduh dan perawatan (pemeliharaan) dan sekali lagi bukanlah pendidikan. [13]
Jadi, tarbiyah itu berarti mengasuh, menanggung,
memberikan makan, mengembangkan, memelihara, membuat, menjadikan bertambah
dalam pertumbuhan, membesarkan, memproduksi hasil-hasil yang sudah matang dan
menjinakkan.[14]
Selanjutnya, tarbiyah tidak hanya untuk species
manusia saja, akan tetapi medan semantiknya meluas spicies-spicies
lainnya seperti mineral, tanaman-tanaman dan hewan, sedangkan pendidikan dalam
Islam khusus untuk manusia. Dengan demikian, jika tarbiyah dikenakan juga pada
selain manusia, maka pendidikan tentunya boleh pula dilakukan pada binatang,
jadi kita akan mengenal pula pendidikan ayam, dan bukan peternakan ayam saja,
kata al-Attas. [15]
Sehingga dari perspektif al-Attas, bahwa tarbiyah
tidaklah tepat untuk membawakan atau berarti konsep pendidikan Islam. Begitu
juga dengan ta’lim itu lebih sempit dari pendidikan.
3.
Pengertian Ta’dib
Di dalam Al-Qur’an istilah ta’dib sebenarnya tidak
ditemukan, akan tetapi istilah ini dapat kita jumpai dalam hadits Rasulullah
SAW, sebagaimana dalam hadits riwayat al-‘Askary ra. Sebagai berikut :
اَدَّ بَنِى
رَبِّى فَأَ حْسَنَ تَأْدِيْبِى .
Artinya :
“Allah mendidikku, maka Ia memberikan kepadaku
sebaik-baik pendidikan”. (HR.
al-‘Askary dari ‘Ali).
Sebenarnya
istilah ta’dib sudah sering digunakan oleh masyarakat arab pada jaman
dahulu dalam hal pelaksanaan proses pendidikan. Ini sesuai yang dikatakan
Shalaby, bahwa terma ta’dib sudah digunakan pada masa Islam klasik,
terumatama untuk pendidikan yang diselenggarakan di kalngan istana para
khalifah.[16]
Perkataan adab dalam tradisi arab dikaitkan dengan kemuliaan dan ketinggian
pribadi seseorang.
Dalam perkembangan sejarah peradaban
Islam semenjak masa Nabi saw sampai
masa keemasan Islam pada masa Bani Abbas, justru kata tarbiyah tak pernah
muncul dalam
literatur-literatur pendidikan. Pada
masa klasik, orang hanya mengenal kata ta'dib untuk menunjuk kepada arti pendidikan. seperti
tersebut dalam hadits Nabi:
أدبني ربي فأحسن
تأديبي
Tuhan telah mendidikku sehingga
pendidikanku menjadi baik
Pengertian semacam ini terus terpakai
sepanjang masa kejayaan Islam. Sehingga semua ilmu pengetahuan yang dihasilkan oleh akal
manusia disebut adab, baik yang berhubungan dengan Islam seperti Fiqih, Tafsir,
Tauhid maupun yang tidak berhubungan langsung seperti Fisika, Filsafat,
Kedokteran, Astronomi, Farmasi, dan Bahasa. Semua
buku yang memuat ilmu tersebut dinamai kutubul adab. Dari sana kita mengenal al-Adab al-Kabir
dan al-Adab al-Shagir yang ditulis oleh Ibn al-Muqaffa (w. 760 M). Seorang ahli
pendidik di masa itu disebut muaddib. Kemudian ketika para ulama
menjurus kepada bidang spesialisasi dalam ilmu pengetahuan, maka pengertian
adab menyempit, yaitu hanya dipakai untuk menunjuk 4 kesusastraan dan etika;
konsekuensinya ta'dib sebagai konsep pendidikan Islam hilang dari peredaran dan
tidak dikenal lagi; sehingga ketika itu ahli pendidik Islam bertemu dengan
istilah education, mereka langsung menerjemahkannya dengan istilah tarbiyah tanpa
penelitian yang mendalam, padahal makna pendidikan dalam Islam tidak sama dengan
education yang dikembangkan di Barat.[17]
Menurut
al-Attas, konsekuensi hilangnya ta’dib sebagai pendidikan dan konsep
pendidikan Islam dari peredaran dan tidak dikenal lagi, menjadikan
hilangnya adab, yang berarti hilangnya keadilan yang pada akhirnya menimbulkan
kebingungan serta kesalahan dalam
pengetahuan. Kesemuanya itu telah melanda kaum muslim sejak dulu sampai
sekarang.
Di dalam Kamus
Kontemporer Arab Indonesia, Atabik Ali A. Zuhdi Muhdlor mengatakan bahwa , kata
ta’dib, terambil dari addaba-yuaddibu-ta’diban, diartikan dengan mendidik,
memperbaiki akhlak dan pengajaran.[18]
Ta’dib sebagai upaya dalam
pembentukan adab (tata krama), terbagi atas empat macam :[19]
1.
Ta’dib adalah al-haqq, pendidikan
tata krama spiritual dalam kebenaran, yang di dalamnya segala yang ada memiliki
kebenaran dan dengannya segala sesuatu diciptakan.
2. Ta’dib
adab al-Khidmah, pendidikan tata krama spiritual dalam pengabdian.
3. Ta’dib
adab al-Syari’ah, pendidikan tata krama yang tata caranya telah digariskan oleh
Allah melalui wahyu.
4.
Ta’dib adab al-shuhbah, pendidikan
tata krama dalam persahabatan, berupa saling menghormati dan saling tolong
menolong.
Menurut
Al-Attas, Ta’dib berarti pengenalan dan pengkuan secara berangsur-angsur
ditanamkan ke dalam diri manusia tentang tempat-tempat yang tepat bagi segala
sesuatu di dalam tatanan penciptaan. Dengan demikian pendidikan berfungsi
sebagai pembimbing ke arah pengenalan dan pengakuan tempat Tuhan yang tepat
dalam tatanan wujud dan kepribadian .[20]
Sehubungan
pendapat Al-Attas di atas, Dr. Al-Rasyidin, M.Ag menjelaskan bahwa pengenalan
dimaksud adalah mengetahui kembali (recognize) perjanjian pertama (Primordial
Covenant) antara manusia dan Tuhan sebagaimana yang dinukilkan dalam
al-Qur’an Surah Al ‘Araf : 172 :[21]
وَاِذْ
اَخَذَ رَبُّكَ مِنْۢ بَنِيْٓ اٰدَمَ مِنْ ظُهُوْرِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ
وَاَشْهَدَهُمْ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْۚ اَلَسْتُ بِرَبِّكُمْۗ قَالُوْا بَلٰىۛ
شَهِدْنَاۛ….
Dan (ingatlah),
ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan
Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman):
"Bukankah aku ini Tuhanmu?" mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan
kami), Kami menjadi saksi ....
Selanjutnya
Ar-Rasyidin mengatakan bahwa pengakuan bermakna melakukan sesuatu sesuai dengan
apa yang telah dikenal. Dalam konteks ini, pengakuan adalah semacam “afirmasi”
dan “konfirmasi” atau “realisasi” dan “aktualisasi” di dalam diri seseorang
mengenai apa yang sudah diketahui atau dikenalkanNya (Tuhan).[22]
Atas dasar itu,
al-Attas berkesimpulan bahwa istilah al-Ta’dib merupakan term yang
paling cocok dalam khazanah bahasa Arab untuk pendidikan Islam, karena
mengandung arti ilmu, kearifan, keadilan, kebijaksanaan, pengajaran dan
pengasuhan yang baik, sehingga makna at- al-Ta’lim dan Tarbiyah
sudah cukup dalam term al-Ta’dib.
Meskipun
pendapat al-Attas di atas mengandung kebenaran, akan tetapi seluruh
negeri-negeri Islam telah menerima kata Tarbiyah untuk pengertian pendidikan,
sedangkan kata Ta’dib sekarang kurang populer.[23]
C.
Kesimpulan
Ta’lim
hanya terbatas pada pengajaran dan pendidikan kognitif semata-mata, sehingga ta’lim
hanya mengedepankan proses pengalihan ilmu pengetahuan dari pengajar (mu’alim)
dan yang diajar (muta’alim). Namun, dalam ta’lim menunjukkan bahwa
ilmu yang bisa untuk dialihkan meliputi semua ilmu termasuk diantaranya sihir. Sehingga
memang istilah tersebut lebih dekat pada pengajaran bukan pendidikan, karena
pendidikan dalam pengertian Islam tentu saja harus mengarah pada manusia yang
lebih baik, sesuai peran dan fungsinya didunia ini menurut Al Qur’an dan As
Sunnah.
Tarbiyah merupkan proses
penanaman etika yang mulia untuk menuju kesempurnaan dengan cara memberi
petunjuk dan nasehat sedikit demi sedikit secara bertahap sesuai dengan fase
pertumbuhannya. Tarbiyah mencakup kognitif, afektif, dan psikomotorik. Selanjutnya, tarbiyah tidak hanya untuk species
manusia saja, akan tetapi medan semantiknya meluas spicies-spicies
lainnya seperti mineral, tanaman-tanaman dan hewan, sedangkan pendidikan dalam
Islam khusus untuk manusia.
Ta’dib berarti
pengenalan dan pengkuan secara berangsur-angsur ditanamkan ke dalam diri
manusia tentang tempat-tempat yang tepat bagi segala sesuatu di dalam tatanan
penciptaan. Dengan demikian pendidikan berfungsi sebagai pembimbing ke arah
pengenalan dan pengakuan tempat Tuhan yang tepat dalam tatanan wujud dan
kepribadian. Pada Ta’dib pendidikan yang mengedepankan aspek kognitif, afektif, dan
psikomotorik, agar dapat membentuk pribadi manusia beriman dan beramal shaleh.
Abdul Mujib, Ilmu Pendidikan Islam
(Jakarta : Kencana Prenada Media, 2006).
Abdul Mujid dan Jusuf
Mudzakkir, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta : Fajar Interpretama, 2008)
Ahmad Shalaby, Sejarah
Pendidikan Islam, terj. Muchtar Yahya dan M. Sanusi Latief (Singapura:
Pustaka Nasional Singapura, 1976).
Al-Attas, Muhammad
al-Naquid, Konsep Pendidikan Dalam Islam, Suatu Rangka Pikir Pembinaan
Filsafat Pendidikan Islam, Terj. HaidarBaqir, (Bandung : Mirzan, 1978).
Al-Rasyidin, Falsafah
Pendidikan Islam, (Bandung: Cipta Pustaka, 2012), Cet. 3.
Atabik Ali A. Zuhdi
Muhdlor, Kontemporer Arab Indonesia,(Yogyakarta : Multi Grafika, 1998).
Badaruddin, Kemas, FilsafatPendidikan
Islam, Analisis Pemikiran Prof.Dr. Syed Muhammad Al-Nuquib al-Attas,
(Bengkulu : Pustaka Pelajar, 2009).
Departemen
Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahannya, (Semarang:
Kumudasmoro, 1994).
Fakhrur Razi
Dalimunthe, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, (Medan: IAIN Press,
1991), Cet. 3.
Langgulung,
Hasan, Asas-asas Pendidikan Islam,
(Jakarta : Pustaka Al-Hakim, 1987).
Raqib,
Mohammad, Ilmu Pendidikan Islam. Pengembangan Pendidikan Integratif di
Sekolah, Keluarga, dan Masyarakat, (Yogyakarta : LKISYogyakarta, 2008).
[1] Hasan Langgulung, Asas-asas Pendidikan Islam, (Jakarta : Pustaka Al-Hakim,
1987), cet. 2, h. 4.
[2] Moh. Raqib, Ilmu
Pendidikan Islam. Pengembangan Pendidikan Integratif di Sekolah, Keluarga, dan
Masyarakat, (Yogyakarta : LKISYogyakarta, 2008), h. 13.
[3]
Abdul Mujid dan Jusuf Mudzakkir, Ilmu Pendidikan
Islam, (Jakarta : Fajar Interpretama, 2008), h. 10-11.
[4] Departemen Agama
Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahannya, (Semarang: Kumudasmoro,
1994), h. 14.
[5]
Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan
Terjemahannya, h.428.
[6] HR. Ibn ‘Asakir dari
Ali ra.
[7] Atabik Ali A. Zuhdi
Muhdlor, Kontemporer Arab Indonesia,(Yogyakarta : Multi Grafika, 1998), h. 1314.
[8]
Kemas Badaruddin, FilsafatPendidikan Islam, Analisis
Pemikiran Prof.Dr. Syed Muhammad Al-Nuquib al-Attas, (Bengkulu : Pustaka
Pelajar, 2009), Cet. 2, h. 28.
[9]
Lihat Hans Wehr, A Dictionery Modern Written Arabic,
Arabic English, Edited by J. Milton Cowas, (Beirut : Libraire Du Liban,
1980), h. 636.
[10]
Tengku Saifullah, Nalar Pendidikan Islam, Ikhtiar
Memahami Pendidikan Islam dalam berbagai Perspektif, (Bandung : Citapsutaka
Media Perintis, 2011), h. 7
[11] Tengku Saifullah, Nalar
Pendidikan Islam, h. 2.
[12]
Muhammad al-Naquid al-Attas, Konsep Pendidikan Dalam
Islam, Suatu Rangka Pikir Pembinaan Filsafat Pendidikan Islam, Terj.
HaidarBaqir, (Bandung : Mirzan, 1978), h. 65.
[13]
Al-Attas, Konsep Pendidikan, h. 70.
[14]
Al-Attas, Konsep Pendidikan, h. 66.
[15]
Al-Attas, Konsep Pendidikan, h. 67.
[16] Ahmad Shalaby, Sejarah
Pendidikan Islam, terj. Muchtar Yahya dan M. Sanusi Latief (Singapura:
Pustaka Nasional Singapura, 1976), h. 32
[17] Shofjan
Taftazani dan Maman Abdurrahman, Makalah Konsep Tarbiyat Pendidikan Dalam Al-Qur’an Sebuah
Kajian Semantis Berdasar Ayat-ayat Quran.
[18]
Atabik Ali A. Zuhdi Muhdlor, Kontemporer Arab
Indonesia,(Yogyakarta : Multi Grafika, 1998), h. 64.
[19]
Abdul Mujib, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta : Kencana Prenada Media,
2006), hal.
20-21.
[20]
Al-Attas, Konsep Pendidikan dalam Islam, h. 61
[21] Al-Rasyidin, Falsafah
Pendidikan Islam, (Bandung: Cipta Pustaka, 2012), Cet. 3, h. 117.
[22] Al-Rasyidin, Falsafah
Pendidikan, h. 118
[23] Fakhrur Razi
Dalimunthe, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, (Medan: IAIN Press,
1991), Cet. 3, h. 52.
.png)